Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan masalah kesehatan global yang sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Kondisi ini dijuluki "pembunuh senyap" karena minimnya gejala spesifik pada tahap awal, padahal dapat memicu komplikasi serius.
Data menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia masih sangat tinggi, namun hanya sebagian kecil yang menyadari dan mendapatkan pengobatan rutin. Tekanan darah yang terus-menerus tinggi dapat merusak pembuluh darah vital, terutama pada jantung, otak, dan ginjal.
Gaya hidup modern yang cenderung sedentari, konsumsi garam berlebihan, dan tingginya tingkat stres menjadi kontributor utama peningkatan kasus hipertensi. Faktor genetik juga memainkan peran, namun modifikasi lingkungan dan perilaku tetap menjadi kunci pencegahan yang paling efektif.
Menurut dr. Rini Puspita, spesialis penyakit dalam, deteksi dini adalah senjata terbaik melawan komplikasi hipertensi. Ia menekankan bahwa setiap individu dewasa wajib melakukan pengukuran tekanan darah secara berkala, minimal sekali dalam setahun, bahkan jika merasa sehat.
Komplikasi jangka panjang dari hipertensi yang tidak terkontrol mencakup risiko stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal kronis. Dampak ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh penyakit kronis ini sangat besar, membebani sistem kesehatan nasional dan produktivitas masyarakat.
Saat ini, pendekatan penanganan hipertensi semakin fokus pada manajemen holistik yang melibatkan diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) dan peningkatan aktivitas fisik. Teknologi kesehatan juga membantu pemantauan tekanan darah mandiri di rumah, memungkinkan pasien lebih proaktif dalam pengelolaan kondisi mereka.
Kesadaran akan bahaya hipertensi dan inisiatif untuk mengukur tekanan darah adalah langkah awal menuju kualitas hidup yang lebih baik. Dengan perubahan gaya hidup yang konsisten dan kepatuhan pada saran medis, risiko komplikasi serius akibat tekanan darah tinggi dapat diminimalkan secara signifikan.