Indonesia kini menghadapi transisi epidemiologi, di mana beban penyakit menular mulai digantikan oleh penyakit tidak menular (PTM). Gaya hidup modern yang serba instan dan minim aktivitas fisik menjadi pemicu utama peningkatan kasus PTM di kalangan usia produktif.
Gaya hidup sedentari didefinisikan sebagai aktivitas yang membutuhkan sedikit energi, seperti duduk atau berbaring dalam waktu lama. Kebiasaan ini secara signifikan meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.
Urbanisasi dan kemajuan teknologi telah mengubah pola kerja dan rekreasi masyarakat secara drastis. Banyak pekerjaan kini menuntut waktu duduk yang panjang, sementara hiburan didominasi oleh layar gawai, mengurangi waktu untuk bergerak aktif.
Menurut praktisi kesehatan masyarakat, pencegahan PTM harus dimulai dari perubahan perilaku fundamental yang berkelanjutan. Intervensi sederhana seperti berdiri setiap 30 menit atau berjalan kaki singkat terbukti efektif memutus rantai sedentari yang berbahaya.
Dampak PTM tidak hanya terasa pada individu, tetapi juga membebani sistem kesehatan nasional dan produktivitas ekonomi secara keseluruhan. Penyakit kronis memerlukan biaya pengobatan yang tinggi dan sering kali mengurangi usia harapan hidup sehat seseorang.
Saat ini, banyak perusahaan dan institusi mulai mengadopsi program kesehatan di tempat kerja untuk mendorong aktivitas fisik karyawannya. Inisiatif ini mencakup penyediaan ruang gerak dan promosi penggunaan tangga sebagai alternatif penggunaan lift.
Melawan ancaman gaya hidup sedentari membutuhkan kesadaran kolektif serta komitmen pribadi yang kuat untuk bergerak lebih banyak. Perubahan kecil yang konsisten adalah kunci utama untuk memastikan masyarakat Indonesia dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat dan berkualitas.