Penggunaan gawai yang berlebihan kini telah menjadi fenomena global yang memicu kekhawatiran serius di kalangan pakar kesehatan mental. Meskipun teknologi menawarkan kemudahan, ketergantungan yang tidak terkendali dapat merusak keseimbangan psikologis individu secara perlahan.
Berbagai studi menunjukkan bahwa paparan layar yang intens berkaitan erat dengan peningkatan risiko gangguan kecemasan dan depresi. Ketidakmampuan untuk melepaskan diri dari perangkat digital sering kali memicu rasa gelisah yang berlebihan saat gawai tidak berada dalam jangkauan.
Fenomena "Fear of Missing Out" atau FOMO menjadi salah satu pemicu utama mengapa seseorang sulit berhenti menatap layar ponsel mereka. Perasaan tertinggal informasi atau interaksi sosial di dunia maya menciptakan tekanan mental yang konstan bagi pengguna aktif media sosial.
Para psikolog menekankan bahwa stimulasi dopamin yang terus-menerus dari notifikasi gawai dapat mengganggu fungsi kontrol diri pada otak. Kondisi ini jika dibiarkan akan melemahkan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dan konsentrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Selain kesehatan mental, kualitas tidur juga menurun drastis akibat paparan cahaya biru yang mengganggu produksi hormon melatonin. Kurang tidur yang kronis akibat penggunaan gadget di malam hari pada akhirnya memperburuk stabilitas emosional dan daya ingat.
Tren detoks digital kini mulai banyak diterapkan sebagai langkah preventif untuk memulihkan kesehatan mental yang terganggu. Masyarakat diajak untuk menetapkan batasan waktu layar yang ketat demi menjaga kualitas interaksi sosial di dunia nyata.
Kesadaran akan bahaya kecanduan gawai merupakan langkah awal yang krusial untuk menjaga kesejahteraan psikologis jangka panjang. Menyeimbangkan kehidupan digital dan fisik adalah kunci utama dalam mempertahankan kesehatan mental di era teknologi modern ini.
