Ketergantungan pada perangkat digital kini telah menjadi fenomena global yang merambah berbagai lapisan usia masyarakat Indonesia. Penggunaan gawai yang tidak terkontrol secara perlahan mulai menunjukkan dampak signifikan terhadap stabilitas kondisi psikologis seseorang.
Penelitian medis menunjukkan bahwa paparan cahaya biru dari layar dapat mengganggu produksi hormon melatonin yang mengatur siklus tidur. Gangguan tidur kronis tersebut menjadi pemicu utama munculnya rasa cemas berlebih dan ketidakstabilan emosi pada pengguna aktif.
Interaksi di dunia maya seringkali menciptakan standar hidup yang tidak realistis sehingga memicu perasaan rendah diri pada penggunanya. Fenomena "Fear of Missing Out" atau FOMO semakin memperparah tekanan mental karena individu merasa selalu tertinggal dari tren sosial.
Para ahli kesehatan jiwa menekankan bahwa stimulasi berlebih dari notifikasi ponsel dapat merusak kemampuan konsentrasi jangka panjang. Otak manusia dipaksa untuk terus memproses informasi singkat secara cepat yang mengakibatkan kelelahan kognitif yang cukup berat.
Dampak yang paling mengkhawatirkan adalah terjadinya isolasi sosial di dunia nyata meskipun individu tersebut sangat aktif di media sosial. Penurunan kualitas hubungan interpersonal ini seringkali berujung pada perasaan kesepian yang mendalam dan gejala depresi klinis.
Saat ini, metode detoks digital mulai banyak direkomendasikan sebagai langkah preventif untuk menjaga kesehatan mental masyarakat luas. Kesadaran akan pentingnya batasan waktu layar menjadi kunci utama dalam memulihkan keseimbangan antara kehidupan digital dan realitas.
Menjaga kesehatan psikologis di era digital memerlukan disiplin diri yang kuat serta dukungan penuh dari lingkungan keluarga terdekat. Keseimbangan penggunaan teknologi secara bijak akan memastikan fungsi kognitif dan mental tetap terjaga dengan optimal secara berkelanjutan.
