Resistensi antimikroba (AMR) telah menjadi salah satu krisis kesehatan global paling mendesak yang mengancam kemampuan kita untuk mengobati infeksi umum. Fenomena ini terjadi ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit berubah seiring waktu dan tidak lagi merespons obat, membuat infeksi sulit diobati.
Penyebab utama resistensi ini adalah penyalahgunaan dan penggunaan antibiotik yang berlebihan, baik pada manusia maupun hewan. Akibatnya, prosedur medis rutin seperti operasi dan kemoterapi dapat menjadi sangat berisiko karena tidak adanya obat efektif untuk mencegah infeksi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa tanpa tindakan segera, kita mungkin akan kembali ke era pra-antibiotik, di mana infeksi ringan bisa berakibat fatal. Beban ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh AMR sangat besar, termasuk peningkatan biaya perawatan kesehatan dan hilangnya produktivitas kerja.
Para ahli kesehatan menekankan pentingnya konsep "Satu Kesehatan" (One Health) yang menyatukan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam penanggulangan AMR. Mereka menyarankan bahwa masyarakat harus selalu menyelesaikan dosis antibiotik yang diresepkan dan tidak pernah menggunakan sisa resep orang lain.
Dampak resistensi antibiotik terasa jelas dalam pengobatan penyakit seperti tuberkulosis (TBC) dan infeksi saluran kemih. Bakteri yang kebal obat memaksa dokter untuk menggunakan lini pertahanan terakhir yang seringkali lebih mahal dan memiliki efek samping lebih parah.
Berbagai negara kini memperkuat program surveilans nasional untuk memantau pola resistensi dan konsumsi antibiotik di fasilitas kesehatan. Selain itu, upaya penelitian dan pengembangan vaksin serta antibiotik jenis baru sedang digalakkan, meskipun prosesnya memakan waktu lama dan biaya besar.
Masyarakat memiliki peran krusial dalam memperlambat laju AMR dengan hanya menggunakan antibiotik sesuai anjuran profesional kesehatan. Kesadaran kolektif dan kepatuhan terhadap pedoman penggunaan obat adalah investasi terpenting untuk memastikan antibiotik tetap efektif bagi generasi mendatang.