Gaya hidup modern seringkali menjebak individu dalam rutinitas minim gerak, sebuah kondisi yang dikenal sebagai perilaku sedentari. Padahal, kurangnya aktivitas fisik secara konsisten telah diidentifikasi sebagai salah satu faktor risiko utama penyebab berbagai penyakit kronis di seluruh dunia.
Penelitian menunjukkan bahwa perilaku sedentari tidak hanya berdampak pada berat badan, tetapi juga mengganggu metabolisme glukosa dan lipid. Kondisi ini secara perlahan memicu peradangan tingkat rendah (low-grade inflammation) yang terus-menerus di dalam tubuh.
Sejak era digitalisasi meluas, waktu yang dihabiskan untuk duduk di depan layar komputer atau perangkat seluler meningkat drastis. Perubahan pola hidup ini telah mengubah ancaman kesehatan dari infeksi akut menjadi penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker.
Menurut Dr. Siti Nuraini, seorang spesialis kesehatan masyarakat, masyarakat harus memahami bahwa olahraga terstruktur saja tidak cukup jika sisa hari dihabiskan untuk duduk. Dr. Nuraini menekankan pentingnya ‘snack exercise’ atau jeda gerakan singkat setiap 30 hingga 60 menit untuk memutus siklus inaktivitas.
Implikasi jangka panjang dari gaya hidup sedentari sangat serius, termasuk peningkatan risiko sindrom metabolik dan penurunan fungsi kognitif. Peradangan kronis yang dipicu oleh inaktivitas dapat merusak pembuluh darah dan mempercepat proses penuaan seluler.
Saat ini, banyak perusahaan dan institusi mulai mengadopsi kebijakan kesehatan yang mendorong penggunaan meja berdiri (standing desk) atau pertemuan sambil berjalan (walking meeting). Inisiatif ini merupakan respons terhadap bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa memecah waktu duduk dapat mengurangi penanda inflamasi dalam darah.
Mengubah gaya hidup dari sedentari menjadi aktif memerlukan kesadaran dan komitmen berkelanjutan dari setiap individu. Mengintegrasikan gerakan ke dalam aktivitas harian adalah investasi paling penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang dan kualitas hidup yang optimal.