Gaya hidup sedentari atau minim aktivitas fisik telah menjadi epidemi modern yang mengancam kesehatan generasi muda Indonesia. Tren "generasi rebahan" ini secara signifikan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis yang seharusnya baru muncul di usia senja.

Kurangnya gerakan harian memicu peningkatan kasus obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular pada usia produktif. Data kesehatan menunjukkan bahwa mayoritas remaja kini menghabiskan waktu lebih dari enam jam sehari di depan layar, jauh di bawah rekomendasi aktivitas fisik minimum.

Perkembangan teknologi digital dan urbanisasi masif menjadi pendorong utama pergeseran pola hidup ini. Kemudahan akses hiburan digital dan berkurangnya ruang publik untuk berolahraga membuat aktivitas fisik dianggap sebagai pilihan sekunder.

Menurut Dr. Rina Kusuma, seorang ahli kesehatan masyarakat, dampak sedentari meluas hingga kesehatan mental, menyebabkan peningkatan kecemasan dan depresi. Intervensi medis dan perubahan perilaku harus dilakukan sedini mungkin untuk mencegah beban biaya kesehatan di masa depan.

Implikasi jangka panjang dari kondisi ini tidak hanya membebani individu tetapi juga produktivitas nasional dan sistem kesehatan. Penyakit tidak menular (PTM) yang menyerang usia muda akan menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara keseluruhan.

Solusi medis terkini menekankan pendekatan pencegahan melalui skrining metabolik rutin dan edukasi gizi terstruktur di tingkat komunitas. Selain itu, program telemedicine dan aplikasi kesehatan kini dimanfaatkan untuk memotivasi peningkatan aktivitas fisik harian secara personal.

Mengubah gaya hidup sedentari memerlukan komitmen kolektif dari individu, keluarga, dan dukungan kebijakan publik yang pro-aktif. Hanya dengan langkah tegas dan terpadu, generasi muda Indonesia dapat terhindar dari ancaman kesehatan yang mengintai di balik kenyamanan digital.