Gaya hidup sedentari atau minim aktivitas fisik telah menjadi epidemi baru yang mengancam kesehatan generasi muda Indonesia. Peningkatan penggunaan gawai dan jam kerja yang didominasi duduk memperparah risiko berbagai penyakit tidak menular (PTM) di usia produktif.

Kurangnya pergerakan harian secara signifikan meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular. Data menunjukkan bahwa sindrom metabolik kini tidak lagi didominasi oleh kelompok usia lanjut, melainkan bergeser ke usia 20-an dan 30-an.

Perubahan pola hidup akibat urbanisasi dan digitalisasi berperan besar dalam mendorong tren sedentari ini. Kemudahan akses transportasi daring dan hiburan digital membuat individu cenderung memilih kenyamanan pasif daripada aktivitas fisik.

Menurut spesialis kedokteran olahraga, intervensi dini sangat krusial untuk mencegah kerusakan organ permanen yang dipicu oleh inaktivitas. Mereka menyarankan minimal 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu sebagai batas aman kesehatan.

Dampak gaya hidup sedentari tidak hanya terbatas pada fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental, seperti peningkatan risiko depresi dan kecemasan. Secara ekonomi, peningkatan PTM pada usia produktif berpotensi membebani sistem kesehatan nasional dan menurunkan produktivitas kerja.

Solusi medis terkini menekankan pendekatan multidisiplin, melibatkan ahli gizi, fisioterapi, dan konseling kesehatan mental. Program pencegahan berbasis komunitas dan digitalisasi kesehatan juga mulai diintensifkan untuk mendorong kesadaran dan perubahan perilaku.

Mengubah kebiasaan sedentari menjadi pola hidup aktif adalah investasi jangka panjang bagi masa depan generasi muda Indonesia. Kesadaran kolektif dan dukungan lingkungan yang memfasilitasi pergerakan adalah kunci utama untuk memerangi ancaman kesehatan ini.