Penggunaan perangkat digital yang berlebihan kini telah menjadi fenomena global yang memicu kekhawatiran serius di kalangan pakar kesehatan. Ketergantungan pada layar ponsel tidak hanya menguras waktu produktif tetapi juga mulai mengikis ketahanan mental individu secara perlahan.
Berbagai studi menunjukkan bahwa paparan cahaya biru dan stimulasi konten digital terus-menerus dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh manusia. Gangguan pada pola tidur ini menjadi pintu masuk utama bagi munculnya masalah psikologis yang lebih kompleks seperti iritabilitas kronis.
Fenomena "Fear of Missing Out" atau FOMO sering kali menjadi pemicu utama mengapa seseorang sulit melepaskan diri dari genggaman gawai. Tekanan sosial untuk selalu terhubung di dunia maya menciptakan standar kebahagiaan semu yang sering kali memicu rasa rendah diri.
Para psikolog menekankan bahwa otak yang terus-menerus terpapar dopamin instan dari media sosial akan kehilangan kemampuan untuk fokus pada hal-hal nyata. Kondisi ini jika dibiarkan tanpa penanganan tepat dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan sosial yang menghambat interaksi interpersonal.
Dampak yang paling nyata terlihat adalah menurunnya kemampuan empati dan peningkatan rasa kesepian meskipun seseorang memiliki ribuan teman di jagat maya. Isolasi emosional ini sering kali tidak disadari oleh pengguna hingga mereka merasakan kekosongan jiwa yang mendalam di tengah keramaian digital.
Saat ini banyak komunitas mulai mengampanyekan detoks digital sebagai langkah preventif untuk mengembalikan keseimbangan kesehatan mental masyarakat. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi pikiran agar dapat beristirahat dari kebisingan informasi yang tidak ada habisnya.
Kesadaran untuk membatasi durasi penggunaan gawai merupakan langkah awal yang krusial demi menjaga stabilitas psikologis jangka panjang. Mari mulai bijak dalam berteknologi agar kesehatan mental tetap terjaga di tengah perkembangan dunia yang semakin serba digital. ***

