Motor listrik kini tidak lagi dianggap sebagai tren sesaat, melainkan solusi mobilitas berkelanjutan yang semakin diminati masyarakat Indonesia. Peningkatan kesadaran lingkungan dan dukungan kebijakan pemerintah menjadi pendorong utama lonjakan adopsi kendaraan roda dua bertenaga baterai ini.
Daya tarik utama motor listrik terletak pada harga yang lebih terjangkau berkat insentif fiskal yang diberikan oleh pemerintah. Skema subsidi yang berlaku efektif memangkas harga jual unit baru, menjadikannya kompetitif dibandingkan motor konvensional di kelas yang sama.
Isu jarak tempuh atau *range anxiety* masih menjadi pertimbangan utama calon konsumen saat memilih motor listrik. Sebagian besar model yang beredar di pasar domestik menawarkan jarak tempuh ideal antara 60 hingga 100 kilometer dalam sekali pengisian penuh.
Menurut pengamat industri, percepatan pembangunan infrastruktur pengisian daya umum (SPKLU) adalah kunci untuk mengatasi kekhawatiran masyarakat. Keberadaan stasiun pengisian yang mudah diakses akan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap utilitas motor listrik sehari-hari.
Saat ini, pengisian daya motor listrik masih didominasi oleh pengisian di rumah (*home charging*) yang memerlukan waktu relatif lama. Pemerintah dan produsen terus bekerja sama memperluas jaringan SPKLU mini dan opsi pertukaran baterai (*battery swapping*) di area perkotaan.
Meskipun adopsi meningkat, tantangan di lapangan terkait kualitas layanan purna jual dan ketersediaan suku cadang spesifik masih perlu diatasi. Edukasi publik mengenai perawatan baterai dan teknologi motor listrik juga harus ditingkatkan agar penggunaan optimal.
Secara keseluruhan, ekosistem motor listrik di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang positif dan berkelanjutan. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan inovasi teknologi baterai, motor listrik diproyeksikan akan mendominasi pasar kendaraan roda dua nasional.