Pergeseran minat masyarakat Indonesia terhadap kendaraan roda dua elektrik semakin nyata, didorong oleh janji efisiensi biaya operasional. Meskipun harga beli awal motor listrik mungkin lebih tinggi, penghematan jangka panjang pada sektor energi dan perawatan menjadi daya tarik utama.

Perbedaan paling mencolok terlihat pada biaya energi harian, di mana pengisian daya listrik jauh lebih murah dibandingkan pembelian bahan bakar minyak (BBM). Untuk jarak tempuh yang sama, biaya listrik rata-rata hanya seperlima hingga sepersepuluh dari biaya bensin non-subsidi, menciptakan disparitas signifikan dalam pengeluaran bulanan.

Motor listrik menawarkan keunggulan substansial dalam hal pemeliharaan rutin karena minimnya komponen bergerak seperti oli mesin, busi, dan filter. Perawatan motor bensin memerlukan penggantian suku cadang secara berkala yang menambah beban biaya tahunan, sementara motor listrik fokus pada kondisi ban, rem, dan baterai.

Menurut pengamat industri otomotif, kunci efisiensi motor listrik terletak pada siklus hidup baterai dan Total Cost of Ownership (TCO). Jika baterai dirawat dengan baik dan diganti sesuai jadwal, TCO motor listrik akan jauh lebih rendah dibandingkan motor bensin dalam kurun waktu lima tahun pertama.

Pengendara motor bensin dapat menekan biaya operasional dengan memilih bahan bakar sesuai rasio kompresi mesin dan melakukan servis rutin di bengkel resmi. Sementara itu, pemilik motor listrik wajib menjaga kondisi baterai agar tidak sering kosong atau terisi penuh 100% terlalu lama untuk memastikan masa pakai optimal dan menghindari biaya penggantian mahal.

Dukungan pemerintah melalui program subsidi pembelian motor listrik turut mempercepat titik impas (break-even point) biaya awal bagi konsumen. Selain itu, pengembangan infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang semakin masif mulai menghilangkan kekhawatiran terkait jarak tempuh dan kemudahan pengisian daya.

Secara keseluruhan, meskipun investasi awal motor listrik cenderung lebih besar, penghematan signifikan dari biaya energi dan minimnya perawatan rutin menjadikannya pilihan yang lebih hemat dalam jangka panjang. Keputusan terbaik bergantung pada intensitas penggunaan harian dan kesiapan pengendara untuk beradaptasi dengan teknologi dan pola perawatan yang berbeda.