Banyak masyarakat Indonesia masih meyakini bahwa mengonsumsi air es secara rutin dapat membekukan lemak dan memicu kenaikan berat badan. Fenomena ini seringkali menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu dalam menjalankan pola hidup sehat sehari-hari. ### Mekanisme Suhu Tubuh dan Metabolisme Secara medis, air dingin yang masuk ke dalam tubuh akan segera disesuaikan suhunya oleh sistem metabolisme agar sesuai dengan suhu internal manusia. Proses termoregulasi ini justru membutuhkan energi tambahan sehingga klaim air es membekukan lemak adalah tidak benar secara biologis.

Mitos ini berkembang pesat karena adanya persepsi visual bahwa lemak akan mengeras jika terkena suhu dingin di luar tubuh. Padahal, sistem pencernaan manusia bekerja dengan mekanisme yang jauh lebih kompleks dan tidak sesederhana reaksi fisik di ruang terbuka. ### Edukasi Nutrisi dari Sudut Pandang Ahli Para ahli gizi menekankan bahwa penyebab utama kegemukan adalah surplus kalori dari makanan manis atau berlemak, bukan suhu air minum. Konsumsi air putih, baik dingin maupun hangat, tetap menjadi pilihan terbaik untuk menjaga hidrasi tanpa menambah asupan kalori.

Kesalahan informasi ini seringkali membuat orang menghindari air putih dingin dan justru beralih ke minuman manis bersuhu ruang. Akibatnya, risiko obesitas dan diabetes meningkat karena asupan gula tersembunyi yang sering kali tidak disadari oleh masyarakat luas. ### Pentingnya Literasi Kesehatan Masyarakat Penelitian kesehatan modern terus membuktikan bahwa hidrasi yang cukup sangat krusial bagi fungsi organ tubuh dan konsentrasi otak. Edukasi mengenai literasi kesehatan digital kini semakin gencar dilakukan untuk meluruskan berbagai miskonsepsi yang telanjur mendarah daging.

Memahami fakta ilmiah di balik mitos kesehatan sangat penting agar kita tidak terjebak dalam kebiasaan yang salah secara medis. Mulailah memilah informasi dari sumber terpercaya demi menjaga kebugaran tubuh secara optimal dan berkelanjutan.