Banyak masyarakat Indonesia masih memegang teguh berbagai mitos kesehatan warisan leluhur yang belum tentu terbukti secara medis. Pemahaman yang keliru ini sering kali dianggap sebagai kebenaran mutlak tanpa mempertanyakan dasar ilmiah di baliknya.

Salah satu mitos yang paling populer adalah larangan minum air es karena dianggap dapat membekukan lemak di dalam tubuh. Faktanya, suhu air yang masuk ke lambung akan segera disesuaikan dengan suhu internal tubuh sehingga tidak berpengaruh pada proses pembekuan lemak.

Kebiasaan "kerokan" saat masuk angin juga sering dianggap sebagai cara mengeluarkan angin melalui pori-pori kulit yang memerah. Secara medis, warna merah tersebut sebenarnya merupakan tanda pecahnya pembuluh darah kapiler yang memicu pelepasan hormon endorfin untuk meredakan nyeri.

Para ahli medis menekankan bahwa literasi kesehatan sangat krusial untuk mencegah penyebaran disinformasi yang berpotensi membahayakan nyawa. Edukasi yang tepat dapat membantu masyarakat membedakan antara tradisi yang bermanfaat dan kebiasaan yang justru merugikan kesehatan.

Dampak dari kepercayaan buta terhadap mitos sering kali membuat seseorang menunda pengobatan medis yang seharusnya segera dilakukan. Hal ini mengakibatkan kondisi penyakit menjadi lebih parah karena penanganan awal yang tidak sesuai dengan standar kesehatan profesional.

Saat ini akses informasi kesehatan yang valid semakin mudah ditemukan melalui berbagai platform digital resmi milik pemerintah dan institusi medis. Masyarakat diimbau untuk selalu melakukan verifikasi data sebelum mempraktikkan saran kesehatan yang beredar luas di media sosial.

Memilah informasi dengan bijak adalah langkah awal yang paling sederhana namun efektif untuk menjaga kualitas kesehatan jangka panjang. Mari mulai menerapkan pola hidup sehat berdasarkan fakta ilmiah demi kesejahteraan diri sendiri dan keluarga tercinta.