Banyak masyarakat Indonesia masih memercayai berbagai mitos kesehatan yang diwariskan secara turun-temurun tanpa dasar medis yang jelas. Fenomena ini sering kali memicu kekhawatiran yang tidak perlu dalam menjalankan pola hidup sehari-hari.

Salah satu anggapan yang paling sering terdengar adalah minum air es dapat menyebabkan penumpukan lemak atau memicu penyakit flu. Faktanya, air es tidak mengandung kalori dan flu disebabkan oleh infeksi virus, bukan karena suhu minuman yang dingin.

Selain itu, penggunaan penyedap rasa atau MSG sering dianggap sebagai pemicu utama kerusakan otak dan berbagai penyakit kronis. Padahal, otoritas kesehatan dunia menyatakan bahwa MSG aman dikonsumsi dalam batas wajar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Para ahli medis menekankan bahwa edukasi berbasis literasi kesehatan sangat penting untuk memutus rantai informasi yang keliru di masyarakat. Pemahaman yang benar mengenai fungsi tubuh akan membantu individu dalam mengambil keputusan kesehatan yang lebih tepat.

Kesalahpahaman terhadap fakta medis ini berisiko membuat seseorang menghindari makanan atau kebiasaan tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh. Hal tersebut justru dapat menimbulkan stres psikologis atau membatasi asupan nutrisi yang sebenarnya dibutuhkan oleh sistem imun.

Seiring dengan kemudahan akses informasi digital, penyebaran hoaks kesehatan kini menjadi tantangan besar bagi para praktisi medis di seluruh dunia. Upaya verifikasi melalui sumber terpercaya menjadi kunci utama agar masyarakat tidak terjebak dalam stigma kesehatan yang salah.

Memahami perbedaan antara mitos dan fakta medis merupakan langkah awal untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik dan optimal. Mulailah bersikap kritis terhadap informasi kesehatan yang beredar demi menjaga kesejahteraan diri serta keluarga tercinta.